Tuesday, February 19, 2013

Learning from yesterday...
Ini adalah catatan & pemikiran berdasar pengalaman selama saya bekerja di sebuah perusahaan.
Basically saat saya bekerja di sana, manajemen perusahaan memang dalam kondisi kurang teratur. Hampir semua bidang diatur dengan seadanya. Tidak ada perubahan, masih seperti yang dulu. Bahkan pada saat perusahaan ini berusia hampir 3 dekade. Pada kurun 1980-an pada saat persaingan di industri transportasi belum seketat sekarang, perusahaan fokus dalam bidang pengangkutan container maupun cargo ringan. Perusahaan menikmati masa keemasan dan meraih keuntungan finansial yang cukup baik. Situasi sosial politik dalam negeri yang relatif stabil juga memberi dukungan. Pesaing tidak banyak dan biaya tenaga kerja masih murah. Perusahaan juga mampu meregenerasi armada secara bertahap. Walau dalam pandangan saya, regenerasi  masih dilakukan tanpa pertimbangan matang manyangkut masa depan bisnis dan kondisi persaingan di masa datang. Perusahaan juga tidak mempertimbangkan perlunya perusahaan memiliki diferensiasi bisnis agar dapat bertahan dan berkembang. Dalam hemat saya, perusahaan sungguh menikmati keberuntungan dalam periode ini.
Kepemimpinan dan model pengelolaan perusahaan mengalami perubahan terutama sejak masuknya M dalam manajemen puncak pada sekitar tahun 1994-1995 dan perusahaan berhasil survive melewati krisis moneter 1998. M yang seorang alumni sebuah universitas di Australia dan pernah bekerja di sebuah perusahaan asing, terbiasa bekerja dalam struktur dan prosedur yang baku, berusaha membentuk, mengadopsi dan menggunakan sistem yang terstandar. Komputer yang tidak digunakan, saat itu mulai digunakan menggantikan mesin ketik manual dalam pencatatan administrasi dan keuangan.
M dengan restu pemilik saham juga berperan besar mendirikan lini bisnis pengurusan jasa kepabeanan. Pembentukan lini bisnis ini membuat perusahaan memiliki kekuatan dan keunggulan kompetitif di hadapan customer. Adanya lini bisnis ini juga berjasa melanggengkan kerjasama strategis dengan Sinar Mas Group yang merupakan salah satu customer kunci. Namun entah kenapa, di 5 tahun terakhir kepemimpinannya, M bisa dibilang tidak lagi melakukan terobosan baru untuk keberlangsungan bisnis, kecuali beberapa kali berusaha merekrut tenaga yang lebih kompeten, namun beberapa juga tidak bertahan karena kompensasi yang relatif kecil.
Bisnis transportasi container dan cargo ringan di akhir dekade 2000-an sedang mengalami persaingan yang sangat ketat. Setiap perusahaan pesaing saling menyerang dan menurunkan harga sampai ke titik yang tidak rasional di logika operasional perusahaan. “Bagaimana bisa si ‘A’ bisa ngangkut barang dari Priok ke karawang dengan harga sekian? Untung dari mana dia?” begitulah kira-kira pertanyaan yang terlontar dari mulut para direksi saat itu. Pada saat itulah, perusahaan mendapat suntikan darah baru dengan masuknya generasi ketiga keluarga dalam manajemen. S masuk setelah menamatkan pendidikannya di Amerika serikat di saat perusahaan mengalami stagnasi inovasi. S berpikir bahwa sebagai negara yang memiliki natural resources yang cukup besar, Indonesia berpotensi mengembangkan industri migasnya.
S masuk membawa ide bahwa perusahaan harus masuk ke bisnis heavy duty transportation untuk mendukung keberadaan perusahaan dan investor di bidang migas terutama investor asingnya. S dengan dukungan power dari ayahnya yang pemegang saham terbesar di group perusahaan berhasil memaksakan investasi cukup besar untuk memuluskan rencananya. Tentu saja hal ini bertentangan dengan manajemen M dan tradisi manajemen sebelumnya  yang aktif mengontrol biaya. M sepertinya tidak kuasa melawan manuver S tersebut, walaupun S termasuk orang baru. M akhirnya memilih mengundurkan diri dari perusahaan. Mungkin juga pengunduran tersebut memang sudah lama direncanakan mengingat sang suami berdomisili di salah satu negara Amerika Utara.
Pasca mundurnya M, S menjadi lebih leluasa merintis dan mengembangkan lini bisnis baru tersebut. Perusahaan berhasil memperoleh order dengan sebuah perusahaan minyak asing terkemuka setelah dinyatakan lulus dan layak dalam standar keselamatan yang cukup tinggi. Pada dasarnya, dalam pandangan saya, Jika perusahaan sudah menetapkan atau menyepakati strategi jangka panjang, hal ini cukup menjanjikan, dan tentunya dilaksanakan di suatu  kantor cabang tersendiri atau dalam divisi yang terpisah dan tidak menempel di suatu kantor cabang yang sudah stabil. Namun, dalam kondisi perusahaan yang menganut kredo biaya rendah & efisiensi besar-besaran, langkah ini jelas mendapat tentangan dari manajemen dan pemilik dari generasi kedua perusahaan keluarga ini yang menghendaki stabilitas dan profitabilitas jangka pendek.
Fenomena menarik lain adalah bahwa ternyata setiap pemimpin perusahaan ini memiliki fokus yang berbeda sesuai dengan background pendidikan atau pengalaman kerja sebelumnya. Pada saat kepemimpinan M, perusahaan / manajemen lebih fokus dalam pengendalian biaya dan keuangan perusahaan. Setiap keputusan diambil untuk kepentingan financial security dan profitabilitas jangka pendek. Pengelolaan biaya atau kegiatan penghematan terus dilakukan meliputi pemakaian barang yang masih bisa dimanfaatkan, hemat listrik, air, telepon, hingga “hemat” dalam membayar tenaga kerja. Karyawan masih dihargai sebatas kebutuhan minimal mereka dalam hidup. Tidak ada jaminan kesehatan dan masa depan yang baik bagi keluarga mereka. Keinginan manajemen tingkat menengah untuk memperhatikan karyawan seringkali terbentur dengan aturan pengendalian biaya yang ketat dari pemilik perusahaan.
Pada masa M, Perusahaan sebenarnya mulai memiliki pandangan yang jika dirintis akan menjadi visi & misi perusahaan ke depan, contoh : perusahaan menyusun company profile yang lebih representatif di hadapan customer dan prospect. Sekitar tahun 2007-2008, M juga memiliki keinginan menyusun standarisasi prosedur operasional tapi entah kenapa draft yang sudah disusun dengan susah payah tidak direview lagi hingga akhir jabatannya. Setelah M memutuskan keluar dari perusahaan, penggantinya, D lebih memusatkan perhatian kepada urusan Teknologi informasi sesuai dengan backgroundnya. D dengan berani melakukan investasi di sistem dan komputer perusahaan yang memang sudah out of date. D juga berani mencoba berinovasi mengintegrasikan sistem komputerisasi keuangan (walau terkesan hati-hati dan trial and error) yang selama ini terpisah dalam modul-modul yang sudah kuno dan sangat tergantung kapabilitas programmer yang disewa perusahaan.
Di sisi lain D kurang memiliki visi dan misi yang jelas dalam menjalankan roda perusahaan. D sangat dipengaruhi pikiran para pemegang saham dan cenderung lambat dalam pengambilan keputusan karena sepertinya menunggu pendapat dari para pemegang saham. Karena belum banyak pengalaman di dunia transportasi, D dan para pemegang saham juga masih menaruh kepercayaan kepada para manajer lama dengan kemampuan rata-rata tanpa dibekali supervisory /managerial skill yang cukup, dan mereka terlatih menghadapi krisis hanya dengan sendirinya seiring berjalannya waktu.
Dalam kondisi demikian artinya D hanyalah pemimpin harian dan pelaksana rutinitas administrasi perusahaan. D juga tidak banyak menelurkan gagasan strategis, entah karena timingnya belum tepat, dalam proses penggodokan, atau karena memang belum ada. Di sisi lain, D harus menghadapi tekanan dari visi bisnis S yang banyak makan biaya dan menggerus cash flow perusahaan. Dalam pikiran D dan manajemen lama, suatu pengeluaran dianggap biaya, sedang dalam pemikiran S suatu pengeluaran dianggap investasi. Jadi jelas bahwa ini bukan hanya pertentangan ide tapi pertentangan visi masa depan perusahaan.
Yang jadi korban adalah para pelaksana di lapangan dan administrator di level bawah dan menengah. Secara operasional, para pelaksana harus melaksanakan instruksi S hingga suatu project selesai, bagaimanapun caranya dan seperti apapun medan perang yang harus dihadapi. Dalam tahap pelaporan dan evaluasi, para administrator harus menghadapi D dan jajaran financial controllernya. Disinilah gambaran betapa beratnya perjuangan para pelaksana di lapangan baik teknis maupun non-teknis. Tidak heran jika banyak karyawan divisi heavy duty berguguran di tengah jalan, keluar atau mengundurkan diri baik dengan alasan kurangnya kesejahteraan maupun sudah tidak merasakan kenyamanan kerja seperti yang didambakan.
Pertentangan antara dua generasi tersebut akhirnya berujung pada dilepasnya jabatan S di perusahaan. Akhirnya setelah melalui diskusi berliku, beberapa asset yang berhubungan dengan lini bisnis heavy duty transportation diambil alih oleh S dengan dukungan modal besar dari ayahnya yang sepertinya setuju dengan visi anaknya.  Beratnya perjuangan bala tentara asuhan S tersebut mencapai klimaksnya saat dilakukan evaluasi tahunan.  Seperti diutarakan di atas, lini bisnis heavy duty transportation ini menempel pada satu kantor cabang yang dulunya adalah pelaksana lini bisnis container reguler dan tentu saja masih memiliki asset yang tidak berhubungan atau mendukung heavy duty secara langsung. Jadi bisa dimaklumi jika pada saat tidak ada oil & gas project / heavy duty project, cabang merugi, tapi pada saat ada project, cabang bisa mencetak laba. Dengan kata lain kinerja cabang tidak bisa mencapai skala keekonomisan bisnis.
Laporan keuangan (yang disusun berdasar kredo dan keyakinan manajemen konservatif / kolot dan disusun dan dievaluasi oleh para manajer tanpa managerial skill yang cukup) menunjukkan bahwa kantor cabang ini menderita kerugian cukup besar. Dengan kata lain, jika asumsi dasar manajemen dalam menilai kinerja adalah ritase, maka kantor cabang tersebut harus mencapai jumlah ritase minimal tertentu jika ingin kinerja keuangannya positif. Namun visi manajemen S berpikiran bahwa asumsi / tolok ukurnya bukanlah ritase tapi servis maksimal yang dihargai tinggi oleh customer baik tangible dan intangiblenya.
Tidak ada yang salah memang. Secara awam mungkin bisa digambarkan bahwa manajemen lama ingin berdagang buah rambutan, sebuah cara lama yang terbukti sukses memberi keuntungan di masa lampau. Harga rambutan per kilonya mungkin hanya 5000 perak, tapi perusahaan bisa menjual ribuan bahkan puluhan ribu kilo dalam satu periodenya. Sedang manajemen gaya S ingin berdagang mobil, harga satuannya mungkin mahal dan hanya laku 2 -3 unit per bulan, tapi margin keuntungannya lebih tinggi dan dapat menghasilkan laba yang juga memuaskan.
Keduanya benar. Yang salah adalah cara manajemen memperlakukan dan me-manage lini bisnisnya. Manajemen lama mungkin tidak paham dan tidak mau repot mengelola bisnis baru yang terlihat lebih rumit. Sedang S dengan jiwa mudanya bersemangat dan menerima tantangan bisnis baru tersebut. S euphoria dengan teknik, akurasi, dan dukungan teknologi baru, namun masih perlu bimbingan dalam mengontrol pengeluaran atau menyeimbangkan neraca keuangan dalam jangka pendek maupun panjang. Secara general, bisa dikatakan bahwa group bisnis ini tidak memiliki grand strategy dalam mempertahankan dan mengembangkan bisnisnya.
Tulisan ini tidak bermaksud untuk menyinggung, berprasangka negatif atau mencari kejelekan individu atau institusi. Dari tulisan ini, penulis berharap kita semua bisa belajar dan mengevaluasi diri sendiri yang tentunya untuk membantu perusahaan ini keluar dari masalah klasik berkepanjangan menuju masa depan yang lebih baik. Perusahaan lain bisa kok kita tidak bisa. Wallaahu a’lam bisshowab.

Friday, October 22, 2010


Anggota lantai 2 dan komandan..

Ini dia kpnakan guee.

Wednesday, March 11, 2009




sunrise...

Sapidermen....

Tuesday, March 10, 2009


Batu celup Cap Ponari : inovasi tiada duanya...

Monday, March 9, 2009